My Wonderful 9 Days

Masa (waktu)

Masa lalu adalah masalah
Masa depan? Ya masa bodohlah
Masa sekarang nggak bisa ditawar lagi
Belajar dari masa lalu atau menyesal di masa depan
Masa iya?
My Classmate - Desta Cakra Sena

kiri ke kanan
Pak Taufiq, Giri, Erwin, Anita
Cherry Blossom di Washington Monument

Aku sangat ingin tahu bagaimana rasanya berada di luar territorial Negara Kesatuan Republik Indonesia, sejak kecil aku berpikir setidaknya aku ingin pergi ke satu negeri lain di muka bumi, ya, negeri dimana kota Mekkah dan Madinah berada.

Lalu karena beberapa kartun di masa kecillku, Detective Conan, Inuyasha dan Ninja Hatori, aku sangat ingin pergi ke Jepang, motivasiku kesana bukan karena ingin melihat kecanggihan dan kemewahan kota Tokyo, tapi aku ingin sekali pergi ke Pegunungan Koga dan Iga dimana ada perguruan ninja disana.

Tiba-tiba saat aku SD, kakak dari ayahku (Uwa Ohan) dan ayahku membicarakan tentang Kerajaan Inggris, mereka terkagum-kagum dengan mental para pewaris tahta itu, ingat saat Pangeran William dan Pangeran Harry kecil yang berusaha berdiri tegak dan tidak menangis di depan publik saat jenazah ibu mereka akan disemayamkan? Sejak itu aku terobsesi dengan kerajaan Inggris dan menyukasi aktor-aktor, film hingga musisi dari Inggris. Baker Street dan Edensor masuk dalam list tempat yang sangat ingin aku kunjungi.

Amerika? Ah aku tidak memasukkannya ke dalam daftar 100 cita-citaku, karena aku tidak tahu apa motivasiku kesana. Tapi itulah negara pertama yang aku kunjungi selain tanah airku.

Tampilan Monitor yang ada di tiap Passenger Seat
Emirates Flight

Kami masih di tanah air

Melihat kondisi di belakang, depan dan bawah pesawat
hanya awan atau laut, aku merinding melihat samudera di bawah kami

Penerbangan Jakarta ke Dubai
Dilanjutkan dari Dubai ke New York

Kami sedang berada di tengah Samudera

Aku merasa dipermainkan waktu, hari kami tiba masih hari yang sama saat berangkat
padahal penerbangan lebih dari 12 jam
Waktu shalat aku kira-kira sendiri

Campur tangan Tuhan, itulah yang sering diucapkan ibuku. Kampusku sekarang, UNIKOM, tidak pernah terpikirkan menjadi tujuanku kuliah, secara tidak sengaja aku mendaftar kesini saat mengantar beberapa temanku yang berniat mengambil kelas karyawan di kampus ini.

Tim Robotik tahun 2014

Tapi kedua temanku tidak jadi mendaftar, justru aku yang tiba-tiba mendaftar, entah kenapa uang di dompetku pun cukup untuk registrasi, padahal sangat jarang aku membawa uang banyak di dompet, apalagi tanpa tujuan.

Hampir saja aku gagal mendaftar ke Divisi Robotika, hampir saja aku mengundurkan diri dari tim. Jadwal pendaftaran yang sangat singkat, persiapan administrasi yang nihil, dan keluarga yang tidak mendukung, membuatku mengurungkan niat. Tapi Euis, temanku di STM Pembangunan, yang juga menjadi mahasiswa baru di UNIKOM sangat ingin mendaftar, dan dia ingin ditemani, aku bilang bahwa aku tidak jadi dan kakakku tidak mau mengantar, lagipula pendaftaran sudah ditutup. Lalu jam 8 malam Euis meyakinkan kalau aku masih bisa mendaftar, urusan administrasi (surat pendaftaran, foto, kartu mahasiswa) biar dia yang urus katanya, tapi salah satu syarat pendaftaran adalah WAWANCARA dan PENYERAHAN FORMULIR TIDAK DIWAKILKAN. Dan seingatku, sekitar jam 9.30 malam Euis mengabarkan kalau urusannya sudah selesai, dan aku bisa mengkonfirmasi pada panitia besok malam.

Keesokan malamnya, Euis justru mengundurkan diri, karena prioritas lain. Ya, begitulah, aku tidak pernah mendaftar, dan seniorku disini selalu mengingatnya, mereka bilang aku curang karena sebenarnya tidak pernah mendaftar, tapi didaftarkan orang lain. LOL

Begitu banyak dilemma yang membuatku ingin mundur dari tim. Aku juga meyakinkan diriku untuk tidak terlalu berharap dapat dipercaya mengikuti lomba dan membuat robot, dari sekian banyak pekerjaan kasar dan berat ini, pastilah dosen lebih memilih untuk dikerjakan oleh lelaki, ya setidaknya aku bisa belajar disini. 

Pak Rodi Hartono (Kiri) dan Pak Taufiq N. Nizar (Kanan)
Dosen Pembimbing Terbaik Kami

Terimakasih telah membimbing dan mengantarkan kami menjadi juara, Pak!
Vivat Academia Vivat Proffesores - Hidup Ilmu Pengetahuan! Hidup Para Guru!

Tapi aku selalu ingat kata-kata dari seorang senior yang aku kagumi saat para anggota sedang melihat-lihat foto tim yang berangkat tahun 2013, “Kamu juga pasti bisa bikin robot, dan belum ada perempuan yang berangkat lho, ayo jadi perempuan pertama dari Indonesia, syukur-syukur bisa menang.”

Hasil perjuangan selama 6 bulan terbayar lunas dan tuntas

"Apa hak kalian untuk sombong? Karena pernah menjadi juara kalian berhak sombong?"
"Jangan pikir kalian bisa menang karena kalian lebih pintar atau lebih rajin daripada mahasiswa di kampus lain, kalau kalian lebih pintar tentu kalian tidak akan kuliah di kampus ini, kan!"
"Tapi kalian punya rasa malu yang membuat kalian ingin membuktikan diri bahwa kalian bisa sebaik mahasiswa di kampus negeri!"
(Dosen)

Setidaknya kami pernah berguna untuk negeri

Ya, aku bahkan kami semua adalah mahasiswa yang gagal, tidak lulus masuk Perguruan Tinggi Negeri.
Tapi setidaknya di tempat ini kami bisa berguna.
Lebih baik menjadi kepala tikus daripada ekor gajah, kan!

Dan iya, aku dipercaya mengikuti lomba dan berangkat tahun 2014, bukan karena terpilih, tapi mereka menunjukku karena tidak ada pilihan. Antara senang dan sangat terbebani, bagaimana jika kalah? Aku sudah terbang setengah dunia dengan biaya besar dan kalah? Karena 1 orang bertanggung jawab atas 1 robot mereka sendiri.   

 Kiri ke kanan
Giri, Pak Rodi, Aku, Pak Taufiq, Erwin
ah sulit mendapatkan foto yang bagus

Sekali lagi ibuku bilang, “Itu perpanjangan tangan Tuhan!” , kami dilancarkan dan sukses dengan hasil sangat sesuai harapan.

Tim UNIKOM, POLBAN, PENS, DIKTI bersama Komjen
di KJRI New York

Tapi yang ingin aku bagi bukanlah pengalaman teknis saat lomba, tapi bagaimana cara pandangku sebagai makhluk negeri tropis yang mengaku suku teramah di dunia saat berada di negeri 4 musim selama 9 hari.

Perjalanan ke Pulau Liberty

1.       Aku pikir bule-bule itu sombong dan tinggi hati, tapi ternyata setiap kali berpapasan mereka selalu mengucapkan, “Have a nice day!” , “Have a great day!”, minimal mereka tersenyum dan mengucapkan “Hi!” padaku.

Di dalam elevator pun mereka menyapa dan bila keluar duluan mereka akan berkata, “Bye bye!” sembari tersenyum.

Apa aku masih berpikir sebagai suku paling ramah? Aku hanya tersenyum setiap berpapasan dengan orang yang aku kenal, bahkan sering kali aku pura-pura tidak melihat mereka, terlalu malas untuk menyapa. Dan sangat acuh jika berpapasan dengan orang yang tidak aku kenal.

Kota Manhattan dari Kapal Ferry

2.       Aku pikir mereka sangat individualis, ternyata aku lebih individualis daripada mereka. Setiap kali ada orang di depanku dan kami menuju ke sebuah pintu, mereka akan melihat ke belakang dan membukakan pintu tersebut untukku.

Bagaimana denganku? Ah aku tidak peduli ada siapa di belakangku, mereka bisa membuka pintu sendiri, kan? Such an egoist mind, how bad I am.

Kami di Pulau Liberty

 Saat Ferry meninggalkan Liberty

Goodbye Statue of Liberty!

3.       Kehidupan berlalu lintas yang bertanggung jawab. Aku ragu-ragu untuk menyeberang, karena mobil-mobil disana dipacu kencang, tapi mereka akan menghentikan mobil mereka jauh dari posisiku akan menyeberang jika melihatku akan menyebrang. Bahkan ada pejalan kaki yang marah karena pengemudi mobil menghentikan mobilnya terlalu dekat dengan dirinya, padahal di Indonesia jarak seperti itu sangat layak. Pejalan kaki adalah raja disana, tidak seperti di tempat kita.


Pagi di hotel, dingin!


Lalu lintas di Washington

Saat di persimpangan jalan, misalkan ada 2 mobil akan menuju arah yang berbeda, yang menghentikan mobilnya duluanlah yang berhak melaju terlebih dahulu, sebaliknya di tempatku, tiap orang justru memacu kendaraannya lebih kencang di persimpangan agar tidak terhalang kendaraan dari arah lain.

Mematuhi STOP SIGN, bahkan di jalan yang tidak macet sama sekali, jika melihat STOP SIGN harus menginjak rem walaupun hanya sekejap, ya minimal lampu indicator rem menyala sekejap. Bahkan di negeri yang banyak atheisnya pun, akan mematuhi aturan walau tak ada yang melihat. Dan aku masih melanggar walau tahu ada Tuhan yang selalu mengawasi.

4.     SELF CLEANING. Di hampir semua tempat makan yang aku kunjungi, sangat menganjurkan kita untuk membersihkan bekas makan kita sendiri, membuangnya ke tempat sampah atau menyimpannya sendiri ke tempat yang disediakan. Andaikan bisa menerapkannya di negeriku.

Bertemu salju pertama kali

Musim semi yang belum tiba

5.     Peduli penyandang cacat. Di setiap tempat umum pasti menyediakan tempat yang diutamakan bagi penyandang cacat, misalkan di cafĂ© ada beberapa meja berlambangkan orang naik kursi roda, artinya meja itu diprioritaskan bagi mereka. Juga ada lahan-lahan parkir berlambang orang naik kursi roda.

6.     Minim sampah plastik. Hari pertama tiba disana, kami langsung mencari toko grosir untuk membeli makanan-makanan instan. Aku heran karena botol air mineral disana lebih tipis daripada yang ada disini, dan saat membayar di kasir mereka tidak memberikan plastik untuk belanjaanku yang banyak ini. Aku tidak berani meminta karena aku pikir mungkin toko kecil ini memang tidak menyediakannya.

Tapi ternyata setiap toko yang aku kunjungi bahkan Mall sekalipun memang tidak memberikan kantong plastik untuk setiap belanjaan, kecuali kita memintanya dan akan dikenai tariff tambahan. Lalu aku perhatikan orang-orang disana memang sudah membawa kantong belanjaan mereka sendiri.

Berbeda sekali dengan tempatku, belanja sedikit langsung diberi kantong plastik, bahkan beli sebuah ballpoint pun diberi plastik, dan akhirnya aku sadar kalau botol minuman yang tipis itu sengaja dibuat agar lebih ramah lingkungan dan mudah didaur ulang. Memalukan sekali kebiasaanku disini yang sering kali mengisi botol air mineral bekas untuk aku gunakan sebagai tempat minumku, padahal sudah ada lambang 1 kali penggunaan dibawah botol itu, ya karena aku pikir botolnya masih kuat untuk diisi air beberapa kali lagi. Bodohnya!

7.     Penduduk Indonesia memang padat, dan aku merindukannya. Dalam tiap 100 meter perjalananku mungkin hanya 1 orang yang aku temui dan bahkan tidak ku temui sama sekali, kebalikannya di Indonesia berapa orang yang bisa kita temui dalam tiap 100 meter? Aku pikir mungkin karena Hartford memang kota kecil yang minim penduduk, ternyata di Manhattan pun seperti itu, sepi sekali tempat ini, tapi setahuku bukankah kepadatan penduduk negeri ini juga cukup tinggi dibanding negaraku? Sepertinya aku harus belajar Geografi lagi.

Sedikit sekali orang beraktivitas di pagi yang dingin

PEDESTRIAN ONLY. Tata kota yang apik dan pejalan kaki yang menjadi raja, beruntung sekali Kota Bandung sedang mengarah seperti itu, hal positif boleh ditiru, kan!

Rumah-rumah yang lebih rapat di kota besar

Bunga Sakura yang mulai mekar

8.     I AM THE MINORITY! Aku sangat khawatir dengan perlakuan macam apa yang akan aku terima sebagai wanita muslim yang berjilbab. Beruntungnya karena New York adalah kota yang heterogen banyak sekali aku temui ras Asia, Arab dan Melayu disini dan sepertinya penduduk asli sudah terbiasa dengan perbedaan.
Sayangnya tidak masuk ke dalam

30 Wall Street di Manhattan

Gedung-gedung tinggi Manhattan membuatnya tampak gelap dan dingin,
karena tidak terkena cahaya matahari secara langsung

Mereka tidak mempersalahkan jilbabku.

Saat aku duduk sendiri di ruang tunggu Trinity College, seorang wanita paruh baya menyapaku, sepertinya dia dosen, “Hi! You looked a bit unwell.” Aku jawab, “Yeah, I’m still jetlag and need to adapt with this weather.” Dia menambahkan, “Oh! Welcome to you! There is chilly outside.”, “Thanks!”.

Lalu nenek tua di China Buffet menatapku, aku kira karena penampilanku, ternyata dia ingin menanyakan rasa makanan yang ingin dia ambil, “How does it taste?”, aku jawab, “That’s good, not spicy anymore!”, “Alright! I’m gonna take it, thanks!” balasnya sambil tersenyum.
Dan hal yang paling aku sukai adalah orang-orang akan menyapaku dengan “Assalamu ‘alaikum!”
Meninggalkan Pulau Liberty

Kapal-kapal menuju destinasi wisata lain di sekitar Pulau Liberty

Seperti dalam The Hobbit, kan? 

Di jalan, tiap kali aku melihat wanita lain yang berjilbab, dia akan tersenyum dan mengisyaratkan ucapan “Assalamu ‘alaikum!” bahkan dari jarak yang cukup jauh, dan aku membalasnya dengan isyarat “Wa ‘alaikum salam!” dengan rasa bahagia seperti bertemu saudara yang lama tak jumpa.




Karena suatu kesamaan, kita dapat merasa seperti saudara bahkan tanpa mengenal sekalipun. Seperti saat aku magang di Batam, tiap kali bertemu orang Sunda aku merasa mereka adalah saudara jauhku dan aku merasa aman.

Abraham Lincoln Memorial
terukir di uang 1 cent

Suasana di dalam Abraham Lincoln Memorial (1)

 Suasana di dalam Abraham Lincoln Memorial (2)

Suasana di dalam Abraham Lincoln Memorial (3)


U.S Capitol
Awalnya aku salah mengira itu adalah White House, memalukan!

Wisata Benua Atlantic yang hilang mungkin, aku tidak yakin!





Aku senang karena identitasku sebagai muslim dapat dikenali dari jilbabku, berbeda dengan para dosen dan teman-teman lelakiku yang secara tidak langsung tidak terlihat apa keyakinan mereka, mereka tidak mencirikan bahwa mereka muslim secara langsung. Bahkan beberapa pria Amerika di lokasi lomba pun menyapaku dengan “Assalamu ‘alaikum!” untuk memulai percakapan atau sekedar ingin mengambil foto robot kami.





 Langit yang tidak berawan

Langit Nusantara lebih teduh karena berawan

Ya baru itu saja hal yang bisa aku ingat dari perjalananku, terlepas dari kehidupan amoral mereka, banyak ilmu yang harus aku ambil dari 9 hari perjalananku. Allah hanya memberikan 9 hari saja mungkin agar aku hanya melihat hal-hal positif mereka, mungkin jika aku hidup disana lebih dari 9 hari justru akan menemukan hal-hal yang menyakitkan.
 Last Day in Washington D.C. (1)

 Last Day in Washington D.C. (2)

Comments

Post a Comment