Jika jiwamu diinjeksikan ke dalam tubuh yang lain, apa masih
ada yang mengenalimu, karena kepribadianmu hanya sekelas obat generik jika diibaratkan
sebagai obat, tipikal rata-rata. –Nearuu –
Aku bisa memilih siapa yang menjadi temanku, tapi aku tidak
bisa memilih diriku sendiri. Dan bukankah tidak masuk akal bahwa dia tidak
pernah diizinkan untuk ikut menentukan penampilannya. – Dunia Sophie, hlm.18 –
Andai saja jiwa ini punya ‘serial number’ untuk bisa
dikenali, seperti DNA untuk mengidentifikasi jasad seseorang. Apa kamu akan
memilihku karena aku adalah ‘jiwaku’? Atau karena jiwa ini ditiupkan ke dalam
tubuh yang ini. Bagaimana jika tubuh si cantik diinjeksikan jiwa generik yang
lain? Dapatkah kamu mengenali kalau dia masih istrimu?
“Gue udah jelek, introvert
pula, kelar hidup gue!” Sambil terbahak-bahak namun sebenarnya menangisi diri
sendiri.
“Iya ya, aku extrovert
sih, tapi susah suka sama orang, susah disukai orang juga, apa aku sejelek itu?
Atau kepribadianku benar-benar ngga menarik? Sampai aku ‘ditinggalkan’ sama
cowok itu.”
“Suka ngerasa ngga sih? Seandainya kita punya muka yang
cantik, sepersekian dari semua masalah kita tuh bisa terselesaikan.”
“Hmmm... Tapi kadang aku ngerasa ngga lebih jelek kok dari
cewek itu, yang pendek-hitam-sipit-bantet-beraksen sunda kental, tapi banyak
cowok yang suka sama dia, padahal tampangnya yaaah...biasa banget, tapi
karakternya menarik, aku aja baru ketemu sekali langsung seneng sama cara dia
bercerita tentang perjuangan hidupnya, dan aku ngga bosen untuk mendengarkan
secara seksama.”
“Nah itu dia, orang yang aku anggap teman itu cuma orang
yang punya sesuatu yang kuat dari dirinya, karakter yang kuat, prinsip yang
kuat ngga sekedar pengikut zaman, aku tuh ngga bisa ngobrol sama orang yang di
jam istirahat scrolling feed instagram,
sekedar bahas lambe turah atau sekedar ngikutin musik dan berita kekinian
apalagi gosip, mereka itu tipikal generik kalo obat mah, mereka ngga aku anggap temen, just fake friend, you can
call it introvert problem.”
(Aku terdiam dan berpikir apa dia menganggapku sebagai teman,
atau aku juga masuk kategori fake friend #extrovertProblem)
“Aku setuju dengan prinsipnya Sherlock Holmes, yang ngga mau
memasukkan informasi yang dianggap ngga penting ke dalam memori otak, Sherlock
Holmes mungkin ngga peduli mana yang menjadi pusat tata surya, apakah bumi atau
matahari. Dan aku ngga peduli sama pernikahan Raisa, siapa itu Kahiyang
bagaimana konsep pelaminannya, temanku bilang aku ngga gaul karena aku ngga tau
berita-berita terkini, aku ngerasa ngga perlu buang-buang memori otak untuk hal
seperti itu. Biarkan mereka hidup damai. Tapi realitanya aku harus mengetahui
hal itu agar punya bahan obrolan dengan temanku.”
“Seseorang di kantor gue, dia cantik banget, sudah menikah,
yah tampang kayak gitu pasti laku cepat dong, tapi karakter dia itu generik
banget, ngga ada yang berkesan buat gue, misalkan tubuh dia itu di-inject dengan karakter generik yang
lain, suaminya pasti tetap akan memilih dia sebagai istri, karena ngga ada yang
spesial selain mukanya, terus darimana dia bisa dikenali? Jiwanya ngga bisa
dikenali, terlalu biasa seperti kebanyakan. Ngga ada sesuatu yang kalo kita
lihat atau dengar itu mengingatkan kita ke si orang itu. Dan apa sih badan itu,
cuma sekedar bangke tau ngga.” My sarcasm
friend problem.
Sumber: www.twitter.com
“Tapi teman-temanku yang berwajah cantik juga punya karakter
yang menarik, lagian cowok itu makhluk visual kan, ya ampun aku makin terpuruk.”
Realita yang harus aku terima, hiks.
“Nah itu, intinya disitu ngga sih?! Kita harus nerima
realita kalo lu tuh jelek! Lu tuh ngga cewek banget! Lu itu sulit untuk
disukai! Itu yang ada dimata orang-orang.”
“Kadang aku mikir, apa aku harus tampak lemah agar ada cowok
yang ngelindungin aku, kemana-mana ngga berani sendiri dan memberi alasan minta
ditemani cowok. Aku pernah nanya pada cowok yang mencampakanku apa kelebihan
cewek itu dibanding aku, dia bilang cewek itu manja membuat laki-laki ingin
mendekati, dia bilang cewek itu wajahnya memelas membuat cowok ingin membantu,
dia bilang cewek itu seru tiap kali chatting,
selalu punya bahan untuk ngga berhenti chat,
respon membalasnya juga cepat. Apalah aku yang chat seperlunya, ngga bisa basa basi, ngga ngerti teori tarik ulur
hubungan.”
“Nasib kita para cewek teknisi, strong independent woman yang terlalu mandiri, terlalu kekar, terlalu
tegar, ke toko buku sendiri, belanja sendiri tanpa ditemani. Dan dipenuhi rasa
iri dengan mereka yang punya perfect
looked. Inget lu harus nerima realitas hidup lu! Miris ya kita!”
“Tapi aku mengakui kalo Si Nona A (nama samaran) tipikal
wanita kharismatik, padahal mukanya biasa aja, cara bicaranya juga ngga ada
anggun-anggunnya, tapi cowok-cowok banyak yang suka, aku aja sebagai cewek
nganggap dia keren, atau Si B (nama samaran) tipikal muslimah syari, setiap
postingannya atau kata-katanya ngga aku anggap cari pujian atau popularitas,
aku malah ngikutin dan ingin kayak dia, beda sama perempuan lain yang
sok-sok-an posting agama atau kebaikan, tapi terkesan menghakimi, menggurui,
memposisikan dirinya eksklusif dipenuhi kebaikan.”
“Buat aku sih ya, sesuatu yang dari hati pasti akan diterima
hati juga, mungkin perempuan lain itu niatnya kurang tulus, Only God Knows!”
“Oiya orang yang kamu anggap temen itu yang kayak gimana?”
Masih berusaha, butuh diakui sebagai teman, maksud terselubung.
#extrovertProblem
“Orang yang aku anggap temen itu tipikal orang yang bisa
menjelaskan secara mendalam apa minat dia dan bikin kita tertarik mendengarkan,
misalkan si A yang penggemar buku fiksi, aku bisa mendengarkan ocehan dia
tentang buku yang baru selesai dia baca, bisa mendengarkan pandangannya
terhadap isi buku itu, perbedaan karakter penulis A dan B, dan hal lainnya.
Atau si penggemar drama korea yang bisa mengambil pesan mendalam dari drama
bertema ‘slice of life’, jadi tiap
kali kalian ketemu seseorang dengan kemiripan hobi atau minat denganku kalian
akan bilang kalau dia mengingtkan pada Si @#$%^ (sengaja di sensor untuk
menjaga privasi). Jadi kadang tampang ngga segalanya sih.”
“Menurut kamu, ada yang perlu diubah ngga sih dari diri kita?”
“I don’t know! Aku
ngga bisa jawab.”

terimakasih sudah sharing yah kak
ReplyDeleteasuransi gratis axa direct