Masa (waktu)
Masa lalu adalah
masalah
Masa depan? Ya masa
bodohlah
Masa sekarang nggak
bisa ditawar lagi
Belajar dari masa
lalu atau menyesal di masa depan
Masa iya?
My Classmate - Desta Cakra Sena
kiri ke kanan
Pak Taufiq, Giri, Erwin, Anita
Cherry Blossom di Washington Monument
Aku sangat ingin tahu bagaimana rasanya berada di luar territorial
Negara Kesatuan Republik Indonesia, sejak kecil aku berpikir setidaknya aku ingin
pergi ke satu negeri lain di muka bumi, ya, negeri dimana kota Mekkah dan
Madinah berada.
Lalu karena beberapa kartun di masa kecillku, Detective
Conan, Inuyasha dan Ninja Hatori, aku sangat ingin pergi ke Jepang, motivasiku kesana
bukan karena ingin melihat kecanggihan dan kemewahan kota Tokyo, tapi aku ingin
sekali pergi ke Pegunungan Koga dan Iga dimana ada perguruan ninja disana.
Tiba-tiba saat aku SD, kakak dari ayahku (Uwa Ohan) dan
ayahku membicarakan tentang Kerajaan Inggris, mereka terkagum-kagum dengan
mental para pewaris tahta itu, ingat saat Pangeran William dan Pangeran Harry
kecil yang berusaha berdiri tegak dan tidak menangis di depan publik saat
jenazah ibu mereka akan disemayamkan? Sejak itu aku terobsesi dengan kerajaan
Inggris dan menyukasi aktor-aktor, film hingga musisi dari Inggris. Baker
Street dan Edensor masuk dalam list tempat yang sangat ingin aku kunjungi.
Amerika? Ah aku tidak memasukkannya ke dalam daftar 100
cita-citaku, karena aku tidak tahu apa motivasiku kesana. Tapi itulah negara pertama
yang aku kunjungi selain tanah airku.
Tampilan Monitor yang ada di tiap Passenger Seat
Emirates Flight
Kami masih di tanah air
Melihat kondisi di belakang, depan dan bawah pesawat
hanya awan atau laut, aku merinding melihat samudera di bawah kami
Penerbangan Jakarta ke Dubai
Dilanjutkan dari Dubai ke New York
Kami sedang berada di tengah Samudera
Aku merasa dipermainkan waktu, hari kami tiba masih hari yang sama saat berangkat
padahal penerbangan lebih dari 12 jam
Waktu shalat aku kira-kira sendiri
Campur tangan Tuhan, itulah yang sering diucapkan ibuku.
Kampusku sekarang, UNIKOM, tidak pernah terpikirkan menjadi tujuanku kuliah,
secara tidak sengaja aku mendaftar kesini saat mengantar beberapa temanku yang
berniat mengambil kelas karyawan di kampus ini.
Tim Robotik tahun 2014
Tapi kedua temanku tidak jadi mendaftar, justru aku yang
tiba-tiba mendaftar, entah kenapa uang di dompetku pun cukup untuk registrasi,
padahal sangat jarang aku membawa uang banyak di dompet, apalagi tanpa tujuan.
Hampir saja aku gagal mendaftar ke Divisi Robotika, hampir
saja aku mengundurkan diri dari tim. Jadwal pendaftaran yang sangat singkat,
persiapan administrasi yang nihil, dan keluarga yang tidak mendukung, membuatku
mengurungkan niat. Tapi Euis, temanku di STM Pembangunan, yang juga menjadi
mahasiswa baru di UNIKOM sangat ingin mendaftar, dan dia ingin ditemani, aku
bilang bahwa aku tidak jadi dan kakakku tidak mau mengantar, lagipula pendaftaran
sudah ditutup. Lalu jam 8 malam Euis meyakinkan kalau aku masih bisa mendaftar,
urusan administrasi (surat pendaftaran, foto, kartu mahasiswa) biar dia yang
urus katanya, tapi salah satu syarat pendaftaran adalah WAWANCARA dan
PENYERAHAN FORMULIR TIDAK DIWAKILKAN. Dan seingatku, sekitar jam 9.30 malam
Euis mengabarkan kalau urusannya sudah selesai, dan aku bisa mengkonfirmasi
pada panitia besok malam.
Keesokan malamnya, Euis justru mengundurkan diri, karena prioritas
lain. Ya, begitulah, aku tidak pernah mendaftar, dan seniorku disini selalu
mengingatnya, mereka bilang aku curang karena sebenarnya tidak pernah
mendaftar, tapi didaftarkan orang lain. LOL
Begitu banyak dilemma yang membuatku ingin mundur dari tim.
Aku juga meyakinkan diriku untuk tidak terlalu berharap dapat dipercaya
mengikuti lomba dan membuat robot, dari sekian banyak pekerjaan kasar dan berat
ini, pastilah dosen lebih memilih untuk dikerjakan oleh lelaki, ya setidaknya
aku bisa belajar disini.
Pak Rodi Hartono (Kiri) dan Pak Taufiq N. Nizar (Kanan)
Dosen Pembimbing Terbaik Kami
Terimakasih telah membimbing dan mengantarkan kami menjadi juara, Pak!
Vivat Academia Vivat Proffesores - Hidup Ilmu Pengetahuan! Hidup Para Guru!
Tapi aku selalu ingat kata-kata dari seorang senior
yang aku kagumi saat para anggota sedang melihat-lihat foto tim yang berangkat
tahun 2013, “Kamu juga pasti bisa bikin robot, dan belum ada perempuan yang
berangkat lho, ayo jadi perempuan pertama dari Indonesia, syukur-syukur bisa
menang.”
Hasil perjuangan selama 6 bulan terbayar lunas dan tuntas
"Apa hak kalian untuk sombong? Karena pernah menjadi juara kalian berhak sombong?"
"Jangan pikir kalian bisa menang karena kalian lebih pintar atau lebih rajin daripada mahasiswa di kampus lain, kalau kalian lebih pintar tentu kalian tidak akan kuliah di kampus ini, kan!"
"Tapi kalian punya rasa malu yang membuat kalian ingin membuktikan diri bahwa kalian bisa sebaik mahasiswa di kampus negeri!"
(Dosen)
Setidaknya kami pernah berguna untuk negeri
Ya, aku bahkan kami semua adalah mahasiswa yang gagal, tidak lulus masuk Perguruan Tinggi Negeri.
Tapi setidaknya di tempat ini kami bisa berguna.
Lebih baik menjadi kepala tikus daripada ekor gajah, kan!
Dan iya, aku dipercaya mengikuti lomba dan berangkat tahun
2014, bukan karena terpilih, tapi mereka menunjukku karena tidak ada pilihan. Antara
senang dan sangat terbebani, bagaimana jika kalah? Aku sudah terbang setengah
dunia dengan biaya besar dan kalah? Karena 1 orang bertanggung jawab atas 1
robot mereka sendiri.
Kiri ke kanan
Giri, Pak Rodi, Aku, Pak Taufiq, Erwin
ah sulit mendapatkan foto yang bagus
Sekali lagi ibuku bilang, “Itu perpanjangan tangan Tuhan!” ,
kami dilancarkan dan sukses dengan hasil sangat sesuai harapan.
Tim UNIKOM, POLBAN, PENS, DIKTI bersama Komjen
di KJRI New York
Tapi yang ingin aku bagi bukanlah pengalaman teknis saat
lomba, tapi bagaimana cara pandangku sebagai makhluk negeri tropis yang mengaku
suku teramah di dunia saat berada di negeri 4 musim selama 9 hari.
Perjalanan ke Pulau Liberty
1.
Aku pikir bule-bule itu sombong dan tinggi hati,
tapi ternyata setiap kali berpapasan mereka selalu mengucapkan, “Have a nice
day!” , “Have a great day!”, minimal mereka tersenyum dan mengucapkan “Hi!”
padaku.
Di dalam elevator pun mereka menyapa dan
bila keluar duluan mereka akan berkata, “Bye bye!” sembari tersenyum.
Apa aku masih berpikir sebagai suku paling
ramah? Aku hanya tersenyum setiap berpapasan dengan orang yang aku kenal,
bahkan sering kali aku pura-pura tidak melihat mereka, terlalu malas untuk
menyapa. Dan sangat acuh jika berpapasan dengan orang yang tidak aku kenal.
Kota Manhattan dari Kapal Ferry
2.
Aku pikir mereka sangat individualis, ternyata
aku lebih individualis daripada mereka. Setiap kali ada orang di depanku dan
kami menuju ke sebuah pintu, mereka akan melihat ke belakang dan membukakan
pintu tersebut untukku.
Bagaimana denganku? Ah aku tidak peduli ada
siapa di belakangku, mereka bisa membuka pintu sendiri, kan? Such an egoist mind, how bad I am.
Kami di Pulau Liberty
Saat Ferry meninggalkan Liberty
Goodbye Statue of Liberty!
3.
Kehidupan berlalu lintas yang bertanggung jawab.
Aku ragu-ragu untuk menyeberang, karena mobil-mobil disana dipacu kencang, tapi
mereka akan menghentikan mobil mereka jauh dari posisiku akan menyeberang jika
melihatku akan menyebrang. Bahkan ada pejalan kaki yang marah karena pengemudi
mobil menghentikan mobilnya terlalu dekat dengan dirinya, padahal di Indonesia
jarak seperti itu sangat layak. Pejalan kaki adalah raja disana, tidak seperti di
tempat kita.
Pagi di hotel, dingin!
Lalu lintas di Washington
Saat di persimpangan jalan, misalkan ada 2
mobil akan menuju arah yang berbeda, yang menghentikan mobilnya duluanlah yang
berhak melaju terlebih dahulu, sebaliknya di tempatku, tiap orang justru memacu
kendaraannya lebih kencang di persimpangan agar tidak terhalang kendaraan dari
arah lain.
Mematuhi STOP SIGN, bahkan di jalan yang
tidak macet sama sekali, jika melihat STOP SIGN harus menginjak rem walaupun
hanya sekejap, ya minimal lampu indicator rem menyala sekejap. Bahkan di negeri
yang banyak atheisnya pun, akan mematuhi aturan walau tak ada yang melihat. Dan
aku masih melanggar walau tahu ada Tuhan yang selalu mengawasi.
4. SELF CLEANING. Di hampir semua tempat makan yang
aku kunjungi, sangat menganjurkan kita untuk membersihkan bekas makan kita
sendiri, membuangnya ke tempat sampah atau menyimpannya sendiri ke tempat yang
disediakan. Andaikan bisa menerapkannya di negeriku.
Bertemu salju pertama kali
Musim semi yang belum tiba
5. Peduli penyandang cacat. Di setiap tempat umum
pasti menyediakan tempat yang diutamakan bagi penyandang cacat, misalkan di café
ada beberapa meja berlambangkan orang naik kursi roda, artinya meja itu
diprioritaskan bagi mereka. Juga ada lahan-lahan parkir berlambang orang naik
kursi roda.
6. Minim sampah plastik. Hari pertama tiba disana,
kami langsung mencari toko grosir untuk membeli makanan-makanan instan. Aku heran
karena botol air mineral disana lebih tipis daripada yang ada disini, dan saat
membayar di kasir mereka tidak memberikan plastik untuk belanjaanku yang banyak
ini. Aku tidak berani meminta karena aku pikir mungkin toko kecil ini memang
tidak menyediakannya.
Tapi ternyata setiap toko yang aku kunjungi
bahkan Mall sekalipun memang tidak memberikan kantong plastik untuk setiap
belanjaan, kecuali kita memintanya dan akan dikenai tariff tambahan. Lalu aku
perhatikan orang-orang disana memang sudah membawa kantong belanjaan mereka
sendiri.
Berbeda sekali dengan tempatku, belanja
sedikit langsung diberi kantong plastik, bahkan beli sebuah ballpoint pun
diberi plastik, dan akhirnya aku sadar kalau botol minuman yang tipis itu sengaja
dibuat agar lebih ramah lingkungan dan mudah didaur ulang. Memalukan sekali
kebiasaanku disini yang sering kali mengisi botol air mineral bekas untuk aku
gunakan sebagai tempat minumku, padahal sudah ada lambang 1 kali penggunaan
dibawah botol itu, ya karena aku pikir botolnya masih kuat untuk diisi air
beberapa kali lagi. Bodohnya!
7. Penduduk Indonesia memang padat, dan aku
merindukannya. Dalam tiap 100 meter perjalananku mungkin hanya 1 orang yang aku
temui dan bahkan tidak ku temui sama sekali, kebalikannya di Indonesia berapa
orang yang bisa kita temui dalam tiap 100 meter? Aku pikir mungkin karena
Hartford memang kota kecil yang minim penduduk, ternyata di Manhattan pun
seperti itu, sepi sekali tempat ini, tapi setahuku bukankah kepadatan penduduk
negeri ini juga cukup tinggi dibanding negaraku? Sepertinya aku harus belajar
Geografi lagi.
Sedikit sekali orang beraktivitas di pagi yang dingin
PEDESTRIAN ONLY. Tata kota yang
apik dan pejalan kaki yang menjadi raja, beruntung sekali Kota Bandung sedang
mengarah seperti itu, hal positif boleh ditiru, kan!
Rumah-rumah yang lebih rapat di kota besar
Bunga Sakura yang mulai mekar
8. I AM THE MINORITY! Aku sangat khawatir dengan
perlakuan macam apa yang akan aku terima sebagai wanita muslim yang berjilbab. Beruntungnya
karena New York adalah kota yang heterogen banyak sekali aku temui ras Asia,
Arab dan Melayu disini dan sepertinya penduduk asli sudah terbiasa dengan
perbedaan.
Sayangnya tidak masuk ke dalam
30 Wall Street di Manhattan
Gedung-gedung tinggi Manhattan membuatnya tampak gelap dan dingin,
karena tidak terkena cahaya matahari secara langsung
Mereka tidak mempersalahkan
jilbabku.
Saat aku duduk sendiri di ruang
tunggu Trinity College, seorang wanita paruh baya menyapaku, sepertinya dia
dosen, “Hi! You looked a bit unwell.” Aku jawab, “Yeah, I’m still jetlag and
need to adapt with this weather.” Dia menambahkan, “Oh! Welcome to you! There is
chilly outside.”, “Thanks!”.
Lalu nenek tua di China Buffet
menatapku, aku kira karena penampilanku, ternyata dia ingin menanyakan rasa
makanan yang ingin dia ambil, “How does it taste?”, aku jawab, “That’s good,
not spicy anymore!”, “Alright! I’m gonna take it, thanks!” balasnya sambil
tersenyum.
Dan hal yang paling aku sukai
adalah orang-orang akan menyapaku dengan “Assalamu ‘alaikum!”
Meninggalkan Pulau Liberty
Kapal-kapal menuju destinasi wisata lain di sekitar Pulau Liberty
Seperti dalam The Hobbit, kan?
Di jalan, tiap kali aku melihat
wanita lain yang berjilbab, dia akan tersenyum dan mengisyaratkan ucapan “Assalamu
‘alaikum!” bahkan dari jarak yang cukup jauh, dan aku membalasnya dengan
isyarat “Wa ‘alaikum salam!” dengan rasa bahagia seperti bertemu saudara yang
lama tak jumpa.
Karena suatu kesamaan, kita dapat
merasa seperti saudara bahkan tanpa mengenal sekalipun. Seperti saat aku magang
di Batam, tiap kali bertemu orang Sunda aku merasa mereka adalah saudara jauhku
dan aku merasa aman.
Abraham Lincoln Memorial
terukir di uang 1 cent
Suasana di dalam Abraham Lincoln Memorial (1)
Suasana di dalam Abraham Lincoln Memorial (2)
Suasana di dalam Abraham Lincoln Memorial (3)
U.S Capitol
Awalnya aku salah mengira itu adalah White House, memalukan!
Wisata Benua Atlantic yang hilang mungkin, aku tidak yakin!
Aku senang karena identitasku
sebagai muslim dapat dikenali dari jilbabku, berbeda dengan para dosen dan
teman-teman lelakiku yang secara tidak langsung tidak terlihat apa keyakinan
mereka, mereka tidak mencirikan bahwa mereka muslim secara langsung. Bahkan beberapa
pria Amerika di lokasi lomba pun menyapaku dengan “Assalamu ‘alaikum!” untuk
memulai percakapan atau sekedar ingin mengambil foto robot kami.
Langit yang tidak berawan
Langit Nusantara lebih teduh karena berawan
Ya baru itu saja hal yang bisa aku ingat dari perjalananku, terlepas dari kehidupan amoral mereka, banyak ilmu yang harus aku ambil dari 9 hari perjalananku. Allah hanya memberikan 9 hari saja mungkin agar aku hanya melihat hal-hal positif mereka, mungkin jika aku hidup disana lebih dari 9 hari justru akan menemukan hal-hal yang menyakitkan.
Last Day in Washington D.C. (1)
Last Day in Washington D.C. (2)


















wah seru banget perjalanannya
ReplyDeletetips memilih asuransi kesehatan