Classically and Melancholy June

Tentang Kesepian

KESEPIAN adalah sendiri tak berpayung di tengah hujan,
adalah tak bisa tidur di malam tanpa bintang,
adalah menahan lapar di warung nasi padang,
adalah bermain sendiri di tengah lapang,
adalah tak punya tv atau radio untuk melihat dunia.
KESEPIAN adalah kesedihan,
tapi bisa juga kekuatan.
KESEPIAN adalah ketidakberuntungan,
tapi bisa juga inspirasi.
KESEPIAN hanya dirasakan manusia yang semua inderanya normal,
tapi tak bisa melihat, mendengar, meraba, merasa dan menyadari bahwa dirinya sepi.
KESEPIAN berasal dari diri kita sendiri.
Classmate – Desta Cakra Sena

Ini adalah tahun keduaku menyaksikan Parahyangan Classical Music Festival di Kota Baru Parahyangan, tahun lalu pertama kali aku tahu acara ini dari salah satu sahabatku, Sasti, yang memiliki selera sama tentang musik. Mulai dari Avenged Sevenfold sampai musik klasik.
"For the last two years, June become my classical month, classically in love."

Parahyangan Orchestra and Choir

Tahun lalu Sasti mengetahui acara ini dari Papan Baliho di Pasteur, ia mengajakku karena tidak tahu harus mengajak siapa lagi, I thought her boyfriend doesn’t like this kind of concert.

Foto tahun 2012, saat awal aku membeli biola,
dan hingga hari ini biola itu tidak tersentuh lagi

kiri ke kanan
Aku - Hartri - Sasti

sahabat yang aku tahu sejak SMP,
tapi baru kenal saat SMK, 
dan menyadari punya hobi yang sama setahun setelah lulus SMK

Sebagai pembuka, Issi (Iskandar Widjaja) memainkan The Theme of Schindler’s List karya John Williams, lagu yang sangat sedih, merupakan theme song dari sebuah film tahun 1993 yang menceritakan tentang pembantaian kaum Yahudi di Jerman pada era Hitler.
"Hundreds musicians, wonderful conductor, beautiful melodies, and I miss someone’s melancholy smile."  
"If only I could see you once again, once a week, everyday."

Theme of The Schindler's List by John Williams
covering by Iskandar Widjaja and Parahyangan Orchestra

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu,
aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
(Aku ingin - Sapardi Djoko Damono)

Untuk dapat mengetahui judul lagu ini perlu usaha yang unik, mulai dari searching di internet karena lagu ini mengingatkanku pada biola kecil yang sering dimainkan Mr. Crab, meminjam smart phone rekan di lab untuk mencari judul lagu dengan software yang ada di androidnya, dan hasilnya nihil. Lalu salah satu rekan lab lainnya, Ikbal, tiba-tiba teringat dengan sebuah film, dan akhirnya searching theme song dari film tersebut, dan benar lagu ini berjudul The Schindler’s List.

Para musisi dan petinggi acara PCMF 2015

Tahun ini, mungkin di awal Februari lalu, saat aku berselancar ke website resmi sang pemain biola, Iskandar Widjaja, aku membaca jadwal tour concert-nya, di sela-sela nama kota-kota di Jerman dan Eropa sana aku melihat nama yang sangat familiar, nama yang melibatkan perasaan, nama yang selalu aku tulis sebagai bagian identitas kelahiranku, Bandung, tepatnya di acara Parahyangan Classical Music Festival.

Aturan menonton konser musik klasik adalah:
1. Tepuk tangan dan standing ovation hanya diizinkan di akhir lagu atau akhir penampilan
2. Dilarang mengobrol selama pertunjukkan
3. Dilarang menggunakan flash camera untuk mengambil gambar
Intinya tidak boleh berisik dan mengganggu kenyamanan penonton maupun konsentrasi musisi


Parahyangan Orchestra and Choir,
Conductor Prof. Gerd Muller-Lorenz

Mereka membawakan sebuah lagu dari musisi yang aku lupa namanya, lagu ini dibuat selama 1 tahun, ditulis pertama kali di Italia dan selesai di Finlandia, makanya lagunya sangat panjang, aku kira lebih dari 20 menit, sebelum penampilan mencapai tengah saja memory sudah habis dan battery berkedip-kedip menandakan tidak mampu merekam lagi. Ya sudahlah!
Lalu aku membuka website resmi Kota Baru Parahyangan, sayangnya belum ada update info tentang acara tersebut. Aku mencari Papan Baliho di Pasteur juga bukan info tentang acara tersebut. Bagaimana dengan Google Search Engine? Aku ketikkan Parahyangan Classical Music Festival 2015, hanya ada info tentang acara di tahun 2013 dan 2014. Setidaknya aku mempunyai semangat berlebih menantikan tanggal 6 dan 7 Juni itu.

"Aku seharusnya mengambil kelas hujan di bulan Juni."
"Dari hujan turun ke hati."
"Karena hujan pernah menahanmu untukku."

Jadwal acara tanggal 6 Juni 2015

Jadwal acara tanggal 7 Juni 2015

Issi (Iskandar Widjaja) adalah pemain biola yang skillful, tapi dia tidak tampil untuk menunjukkan kemampuan saja, dia pintar membawa suasana, mengetahui bahwa pedengarnya adalah amatir musik klasik, dia membawakan River Flows in You dari Yiruma sebagai pembuka di Minggu sore yang cerah setelah hujan cukup deras.

He is cute, indeed!

River Flows in You by Yiruma
covering by Iskandar Widjaja and Christine Utomo

tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu 
(Hujan Bulan Juni - Sapardi Djoko Damono)
Tahun lalu, di hari kedua konser, ayah, ibu, dan adik perempuan Sasti sangat tertarik untuk menonton, jadilah mereka datang hampir sekeluarga, kecuali kakak lelakinya yang tidak mau ikut.

Foto tahun sebelumnya
Aku (kiri) - Hartri (tengah) - Sasti (kanan)

Foto setahun yang lalu

Tahun ini juga aku menonton dengan orang-orang yang sama, keluarga temanku ini memang sangat menyenangkan, bahkan aku diajak makan bekal yang mereka bawa di dalam mobil mereka, awalnya mereka berniat menggelar tikar di rumput, tapi malu, padahal ada rombongan bule yang juga menggelar tikar di rumput dan makan bersama, kenapa justru kami para pribumi yang gengsi ya?

Ayah dan Ibu Sasti

Hartri (adik Sasti)

Sasti (temanku)

Ya kami berfoto di tempat yang sama, kebiasaan lama!

Stephan Rahn (Pianist) dan Oliver Mascarenhas (Cellist)

Tahun lalu aku menonton tanpa persiapan, hanya bisa merekam menggunakan smart phone dengan kualitas yang mengecewakan, tahun ini aku berusaha mempersiapkan peralatan semaksimal mungkin. Aku bahkan meminjam kamera DSLR milik teman di lab dan tripod milik rekan lab tetangga, ya barang pinjaman semua, kecuali untuk keadaan darurat aku membawa kamera digital milikku pribadi dan mengosongkan memory handphone-ku. Penampilanku sekilas sudah seperti awak media, makanya bisa mendapatkan spot terbaik di tiap konser, menyenangkan!

"Seharusnya, hujan tidak turun lagi di bulan Juni."

Membawa 1 DSLR, 1 Digital Camera, 2 Handphone
dan 1 Tripod (totalitas penggemar)

Video yang direkam menggunakan DSLR sangat menghabiskan memori, bahkan untuk kualitas terendah sekalipun, tapi hasilnya tidak mengecewakan, kecuali kemampuanku mengambil video yang sangat amatiran.

Penampilan kedua Issi di hari Minggu

Penampilan berikutnya yang sempat terekam, sebelum memory habis.

Setelah memory DSLR habis, proses perekaman dilanjutkan digital camera

Di sela pertunjukkan, ada jeda sekitar 1 jam, tanpa pikir panjang aku segera pulang ke rumah untuk sekedar mengosongkan memory agar bisa digunakan untuk merekam pertunjukkan selanjutnya. Hari Minggu jam 5 sore aku titipkan tripod pada Sasti dan menginjak gas sekuat mungkin agar 1 jam yang berharga ini cukup untuk pulang ke rumah - memindahkan data ke laptop - dan kembali ke Bale Pare. Sore yang gerimis tidak jadi masalah, seakan semesta sedang jenaka terhadap tingkahku.

Penampilan Oliver (Solo Cellist) dan Orkestra

Penampilan Ensemble Trielen - Wind dari Perancis (kalo tidak salah)

Alfred Sugiri (Pianist)
Jadinya banyak lagu yang tidak sempat direkam karena kehabisan memory dan batterai yang cepat low batt. Setidaknya sensasi semacam itu tidak akan pernah sama, menontonnya secara langsung jauh lebih indah daripada mengulangnya melalui video, dengan kualitas terbaik sekalipun.

Hundreds fans "storming" him
after the show

kyaaaaaa so cool! marry me Issi, I'm yours!!!


Penampilan bonus, kwartet yang terbentuk sejak sehari sebelumnya.
Memainkan lagu tentang Indian yang mengejar Cowboy
penonton mulai berisik karena terbawa suasana.

By this June, I've tried to don't need much, don't expect much, don't care much, don't think much of you, nice man! Accidently consider you as a friend. Be happy, friends! For you and your lover. Sometimes, knowing nothing is better than knowing at all.  

Comments

  1. baca blog kamu, ada bagian pengen ngakaknya, tapi ada bagian ingin nangisnya juga.. wkwkwkwk

    ReplyDelete

Post a Comment