-Penulis-
“Jadi, aku setuju dengan konsep itu.”
“Penulis yang tidak akan pernah menyelesaikan tulisannya?”
“Iya”
“Kamu bisa menyelesaikan semua karyamu.”
“Jika itu karanganku atau khayalanku, aku bisa.”
“Lalu semua yang kamu tulis itu?”
“Itu milik… Pemilikku.”
“Ah iya. Kita memang penulisnya, bukan pembuat alurnya.”
“Aku memulainya, menulis tentang keluargaku, tentang diriku,
dan aku tidak akan pernah bisa mengakhirinya.”
“Mengakhiri tulisanmu?”
“Aku tidak tahu bagaimana akhir hidupku, aku tidak akan
pernah bisa menuliskan bagaimana akhir hidupku.”
“Kamu berharap ada yang menuliskannya?”
“Iya, itu alasanku melakukan semua ini, aku bisa mengetahui
kisah keluargaku bahkan sebelum aku ada, menuliskan tentang mereka yang telah
tiada, aku menyukai kisah-kisah mereka, aku ingin membaginya, tapi bagaimana
keadaan keluargaku setelah aku tiada?”
“Siapa yang kamu harapkan untuk melanjutkannya? Atau
mengakhirinya?”
“Mungkin suamiku, mungkin anakku, mungkin temanku, mungkin
saudaraku, mungkin orang yang mencintaiku, mungkin orang yang sangat membenciku,
mungkin seseorang secara tidak sengaja menemukan tulisan-tulisan ini dan
setia membacanya dan berakhir sebagai bukan siapa-siapa dalam kehidupanku,
bahkan aku tidak pernah mengenalnya.”
-Pengemis-
“Aku ingin memastikan setiap pengemis yang aku temui bisa
pulang dengan perut kenyang.”
“Ah as usual, No Action Theory Only, kamu sama seperti
falsafah busuk!”
“Apa maksudmu?”
“Kamu hanya bisa berteori, mana tindakanmu? Ingat saat kamu
mengabaikan anak kecil pengamen di lampu merah?”
“Aku ingat.”
“Kamu juga membiarkan Kakek penjual tirai bambu yang sesak
nafas yang selalu kamu lihat setiap pagi menuju kampusmu.”
“Maafkan aku.”
“Kamu tak menghiraukan pria paruh baya yang selalu kamu
lihat berjalan melintasi fly over setiap pagi dan malam dan hanya membawa
sebotol minuman. Peduli apa pekerjaannya? Peduli pakaian lusuhnya?”
“Aku menyesalinya.”
“Kamu mengacuhkan para tukang sampah yang kesulitan menarik
gerobak mereka, tanpa alas kaki yang layak. Bagaimana jika mereka menginjak
sampahmu yang bisa membuat luka di kaki mereka dan menyebabkan infeksi?”
“Aku memikirkan diriku.”
“Kamu membaca buku-buku tentang hak asasi, artikel tentang
keadilan, berita-berita ketimpangan social, anak-anak yang kelaparan, bahkan
Kitab yang kamu yakini, dan kamu tetap
mengabaikan sekelilingmu?”
“Tanpa aku sadari, mereka jadi
bagian keseharianku, dan aku hanya bisa menuju kampusku.”
sumber : www.youtube.com
-Pematah Hati-
“Sorry for being so rude for no reasons.”
“Do you think of him?”
“I do, so I want him to forget me easily.”
“By saying some fuckin’ worst curse words to him.”
“I say I want him to forget me.”
“Didn’t you think that’s hurt so bad?”
“I thought that was better for him than had an unrequited
love.”
“Then you’ll be sorry for that.”
“I knew it, I always know it. I’m
sorry for being his heartbreaker.”
-Pemimpi-
“Aku adalah PEMIMPI YANG TERLALU SERING TERBANGUN.”
“Tidurlah terus jika kamu ingin tetap bermimpi.”
“Aku terlalu lelah untuk tidur.”
“Jadi sekarang kamu ada di dunia nyata.”
“Entahlah, saat aku tidur, aku merasa itu adalah dunia yang sangat
nyata, saat terbangun, baru aku sadari kalau aku di dunia yang sebenarnya, perasaan
dan pikiranku tidak dapat membedakannya.”
“So you live in a world of your fantasy, then I’ll keep my
reality away from you.”
“Don’t be.”
-Pemenang-
“Aku tidak berani mengejar dia, lalu aku putuskan untuk
mengejar prestasinya.”
“Sound so epic!”
“No, it’s just I have prepared my heart to be broke at
number of times.”
“I know, he is a champion. He is cute, indeed. He is a
spotlight. Just like a Prince Charming.”
“Then who am I ? An ugly dwarf?”
“That’s what you think.”
“That’s what I feel.”
“Poor girl!”
“Perasaanku padanya adalah urusanku, perasaannya padaku itu
haknya.”
-Plester-
“Tidakkah kamu merasa bodoh membuat benda-benda itu?”
“Ah biarkan mereka dengan pikiran mereka.”
“Ah biarkan mereka dengan pikiran mereka.”
“Buku Chicken Soup for
The Soul itu sangat berguna ternyata.”
“Ya, aku terinspirasi untuk membuat ‘PLESTER UNTUK HATI YANG
LUKA’ ini.”
“Hanya simbol permintaan maaf.”
“Dan hadiah perpisahan di hari wisuda sekolah.”
“Dan menunggu berapa orang yang akan tetap menyimpannya.”
“Dan juga mengetahui dimana mereka akan meletakkan hadiahku.”
“Atau dilupakan. Plester dalam botol ini.”
Plester untuk Hati yang Luka
Aku menyesal melukai hatimu
Dan ini, adalah plester untukmu
Dari aku, orang yang duduk di sampingmu
Aku menyesal pernah membantahmu
Dan ini, adalah plester untukmu
Dari aku, putrimu yang menyembunyikan keinginannya
Aku menyesal cemburu padamu
Dan ini, adalah plester untukmu
Dari aku, kakakmu yang menginginkan perhatian lebih
Aku menyesal iri padamu
Dan ini, adalah plester untukmu
Dari aku, adikmu yang ingin sepertimu
Aku menyesal mengabaikanmu
Dan ini, adalah plester untukmu
Dari aku, saudarimu yang sibuk memikirkan dirinya
Aku menyesal sering menertawakanmu
Dan ini, adalah plester untukmu
Dari aku, temanmu yang selalu ingin membuat kesan baik
Aku menyesal telah hilang kendali
Dan ini, adalah plester untukmu
Dari aku, sahabatmu yang bertingkah seakan baik-baik saja
Aku menyesal atas semua kebodohanku
Dan ini, plester untukmu
Dari aku, gadis yang mengesampingkan air matanya
Aku menyesal untuk saat-saat kebohonganku
Dan ini, plester untukmu
Dari aku, remaja yang meyembunyikan keputusasaannya
Aku menyesal karena membuatmu kesal
Dan ini, plester untukmu
Dari aku, muridmu yang sedang kehilangan petunjuk
Aku menyesal untuk semua cinta yang tak pernah ku balas
Dan ini, plester untukmu
Dari aku, wanita yang bisa bersikap sangat kejam
Aku menyesal mengutuk keadaan ini
Dan ini, plester untukmu
Dari aku, manusia yang berharap memiliki kehidupan seindah dan semudah hidup orang lain
Aku benar-benar menyesal melukai hatimu
Dan ini, hanyalah plester untukmu
Dari aku, orang yang duduk di sampingmu dan berharap kau ada disana
-Pernahkah?-
“Pernahkan kamu menginginkan sesuatu sebegitu besarnya?”
“Iya.”
“Pernahkah kamu melepaskan sesuatu yang telah kamu raih
dengan susah payah?”
“Sulit.”
“Pernahkan kamu menangis dan membuatmu sangat lelah?”
“Hm.”
“Saking lelahnya membuatmu tertidur sembari menangis.”
“Dan berharap saat terbangun nanti, semua itu hanya mimpi.”
“Pernahkan kamu mengalah demi perasaan teman baikmu?”
“I think too much. Ignore my own feeling.”
“Pernahkah kamu berharap tidak menjadi yang terbaik.”
“As always.”
“Pernahkan kamu meminta untuk tidak diandalkan?”
“If only I’m a weak girl.”
“Pernahkan kamu…menjadi diriku?”
-Penyelamat-
“Kamu selalu berpikir untuk melakukan segalanya sendiri.”
“Aku takut mengganggu.”
“Kamu selalu merasa dapat menyelesaikannya sendiri.”
“Aku khawatir menyusahkan.”
“Bahkan saat mobil itu menabrak motor yang kamu kendarai,
kamu masih berpikir untuk bangkit sendiri, di malam yang hangat itu.”
“Aku kira orang-orang butuh tujuan untuk melakukan setiap
hal.”
“Kamu menjadi individualis tanpa alasan.”
“Dan seseorang mengangkat motorku, aku mengawasi kemana ia
membawanya.”
“Kamu terlalu curiga.”
“Beberapa orang membawaku ke bahu jalan, aku memikirkan isi tasku.”
“Kamu terlalu meremehkan orang.”
“Yang lain mengambilkan First Aid Box dari mobilnya,
membersihkan luka, memberi minum, berusaha menelpon keluargaku, dan aku sadar
aku tidak berdaya jika mereka mengambil apapun yang kumiliki, tapi mereka hanya
menolong, selesai.”
“Dan seseorang tetap menjagamu hingga keluargamu menjemput.”
“Ya, aku berharap bertemu dia lagi.”
“That’s what you have that big scar on your leg. To reminds
you!”
-Pengalaman-
“Everytime you have the worst day, just recall you wonderful
day you ever had!”
“That’s why you want to write all your experiences.”
“I want my day to be documented, so everytime I feel bad, I know
I have so many blissfulness days.”
“Will you write your best days only?”
“I don’t know.”
“Who is going to read what you write?”
“I don’t know.”
“Then will you still do this?”
“The thing is…I am happy to write what God has written of
me!”
-100 years-
“You give up on people too easily.”
“It’s not like they fight for me.”
“That’s what you think.”
“That what I see.”
“Then you are stupid.”
“Well, I am sorry for not being able to read someone else’s
mind and know what’s in their heart.”
“What do you mean?”
“You said I’m stupid, right? Well if they don’t show me that
they care how the heck am I supposed to know? Using sixth sense?”
“They did. They showed you.”
“Yeah and they show me that they didn’t as well.”
“You are being complicated for no reasons.”
“I, too got my own issues here.”
“Do you hate yourself?”
“I’ve always loved my self. But now that people dislike me, I
don’t think I love my self as much as I used to be.”
“I don’t get you at all.”
“Yeah? Then don’t waste your time trying to understand me. It’s
always easier that way.”
“What if that’s not what I want?”
“I don’t care. You’re 100 years too late. I’m already
broken.”
(Nearuu - sumber: www.facebook.com)
Semua dialog terjadi di pikiranku, apa masih bisa dikatakan dialog jika terjadi dalam pikiran seseorang? Kalau begitu aku menemukan tempat bermonolog di dunia yang monokrom di kehidupan yang monotone. That’s called social media.
Ah sekarang aku menjadi khawatir akan memiliki kepribadian ganda.






selalu suka membaca di blog ini bagus kak
ReplyDeleteportal asuransi