Sailing to My Destiny

Perhaps, I knew this sentence from a Korean drama.

“Sailing to the blue ocean! It’s pretty common, right? But still I wanna do that, sail the sea, across the world!”

Salah satu cita-citaku sejak kecil adalah menjadi Nahkoda. Aku tidak pernah menyampaikan itu, tentu aku sudah mengerti sejak kecil kalau cita-cita itu tidak logis untuk seorang anak perempuan. Jadi setiap kali seseorang bertanya apa cita-citaku, jawabanku adalah profesi yang akan disukai si penanya tersebut. Licik kan!

Kamu tahu? Nenek moyang kita seorang pelaut, dan memang beliau seorang pelaut. Ayah dari Kakekku adalah pedagang Arab yang menikahi gadis pribumi, sedangkan Ayah dari Nenekku seorang pelaut dari China yang menikahi seorang wanita suku Dayak. That’s why I looked like this! It’s a biracial family, nope, it’s multiracial family.

Saat Ayah (Abah) dan Ibuku (Mama) memutuskan menikah di Bandung tahun 1988, tentu saja keluarga Mama yang ada di Kalimantan ingin sekali menghadiri ritual sakral tersebut, hal terpentingnya adalah karena mempelai wanita membutuhkan wali untuk ijab kabul. Sebuah firasat, Kakak lelaki mamaku yang sudah lebih dulu menikah dan menetap di Bandung menyampaikan bahwa untuk jaga-jaga bila terjadi sesuatu yang di luar rencana, beliaulah yang akan menjadi wali untuk Mama, bukan Kakekku.

                                                                        Kiri ke kanan
                                                           Uwa Teteh - Abah - Mama - Angah (Kakak Lelaki Mama)

Dan benar, sesuatu terjadi. Keluarga dari Kalimantan berangkat jauh hari sebelum hari pernikahan, karena mereka tidak menggunakan pesawat, tapi menggunakan kapal pribadi milik keluarga kami. Hah, terdengar seperti keluarga kaya raya, tidak, itu adalah kapal barang yang digunakan Pamanku menjalankan usahanya. Memiliki beberapa kapal tidak terdengar terlalu istimewa dan menjadi sesuatu yang biasa di Kalimantan, karena memang sudah banyak yang menjalankan usaha pengiriman kayu atau wallet atau hal lainnya ke Pulau Jawa, dan memiliki kapal barang pribadi merupakan salah satu aset terpenting. 

                                                                                                      Kakek & Nenek


Kapal laut yang mengangkut keluarga Mama, yang dinahkodai oleh Pamanku sendiri, hancur di Laut Jawa. Semua harta lenyap, kecuali cincin dan beberapa perhiasan hadiah pernikahan dari Nenek untuk Mama, mungkin karena memang perhiasan tersebut sudah menempel di tubuh Nenek dan terselamatkan begitu saja, menjadi saksi bisu kejadian itu. Beberapa anak buah kapal itu hilang, tapi semua anggota keluargaku selamat.

                                                                                  Paman (Gulu Darsyah)

Aku tidak tahu bagaimana cara keluarga di Bandung mengetahui bahwa kapal tersebut hilang, karena itu bukan angkutan umum, tidak akan ada pemberitaan di TV. Mungkin karena mereka kehilangan komunikasi, dan tidak kunjung tiba hingga menjelang hari pernikahan. Tapi pernikahan harus tetap dilangsungkan, hal tersebut dirahasiakan dari kedua calon mempelai. Kakak lelaki Mama menjadi walinya.

Anggota keluarga kami harus bisa berenang, ya, karena itu sejarahnya. Mereka terombang-ambing di Laut Jawa sekitar 5 hari, atau lebih, kalau pikiran mereka masih cukup jernih dan dapat menghitung dengan benar. Kakek dan Nenekku diikatkan pada potongan-potongan kapal yang masih mengambang. Ah bakti anak pada orangtua dengan cara dramatis itu! Aku selalu terharu pada bagian ini. Anak-anaknya (paman-pamanku) mempertahankan diri dengan berbagai cara. Bertahan hidup dengan meminum air hujan. Berenang di pantai dengan air yang asin selama 4 jam saja sudah membuatku kehilangan seluruh tenaga, bagaimana dengan mereka? 5 hari. Hingga akhirnya ada kapal yang berisi orang-orang asing (bule) menyelamatkan mereka. Aku dan keluargaku yang menceritakan kejadian itu tidak yakin apakah itu kapal asing atau hanya berisi orang asing, kenapa bukan kapal patroli negara yang datang, bagaimana bisa kapalnya orang asing ada di laut kita, ah mungkin itu urusan birokrasi dan aku tidak akan paham, yang aku tahu keluarga besarku diselamatkan oleh kapal itu.

Mereka di beri pakaian, makanan, diobati dan diinterogasi. Masalah anak buah kapal yang hilang dirahasiakan, dan pada akhirnya menjadi tanggung jawab Pamaku, ya beliau harus bertanggung jawab pada keluarga anak buah kapal tersebut. Singkat cerita, mereka dibawa kembali ke Kalimantan, dan aku tidak tahu bagaimana dan menggunakan apa mereka akhirnya berkunjung juga ke Bandung. Yang pasti Mama dan Kakaknya menangis sejadi-jadinya, menciumi orangtua mereka, dan baru mengetahui ceritanya. Aku mendapat cerita ini pertama kali dari Kakak lelaki Ayahku (Uwa), dan selalu meminta cerita lengkapnya dari siapapun, bahkan sampai sekarang, cerita yang diulang-ulang. My family’s story such a drama, isn’t it? LOL, but that’s true story of us.

                                                                                                Kiri ke kanan
                                                     Uwa Aisy - Abah - Mama - Uwa Ohan (Kakak Lelaki Abah)

Tidak ada trauma berkepanjangan, mereka tidak trauma terhadap laut. Bahkan selanjutnya kami tetap menggunakan kapal laut (kapal transportasi umum tentunya) untuk ke Kalimantan, bukan karena urusan harga saja, tapi sensasinya selalu unik. Dan setiap kali naik kapal laut, sejak kecil, kakakku selalu hilang di kapal, membuat semua panik, ternyata dia mencari ruangan nahkoda. Aku juga mengikuti kakakku, dan sejak itu terobsesi dengan cara mengendarai kapal laut. And, you know what?Aku membuat tanda tangan saat kelas 6 SD, untuk berbagai keperluan, dan aku ingin tanda tangan itu berbentuk kapal layar.



Aku selalu minta duduk di jendela, tubuhku saat itu masih cukup untuk duduk melingkar di jendela bulat itu. Dan itu pertama kalinya aku melihat langit dengan bintang yang sangat ramai, tidak pernah aku lihat sejak aku lahir dan besar di Bandung. Aku bertanya kenapa kita bisa tahu kemana arahnya? Disini sangat gelap dan kalaupun terang hanya ada laut dan langit, sekarang ada dimana? Dan tidak bertabrakan? Aku belum mengerti apa itu kompas, dan seseorang menjawab bintang itu bisa menunjukkan arah (ah aku lupa siapa yang bilang itu, mungkin salah satu almarhum pamanku). Ya, sejak itu aku tertarik bertanya tentang rasi bintang, selalu kagum pada benda-benda langit, dan merasa religious saat membicarakan bintang-bintang. Subhanallah! How Great You Are! How busy You are! And still care of me, makhluk kecil milik-Mu!

Aku dan kakak sepupu di kelas ekonomi 

Kegiatan sarapan di kapal laut

                                                     Abah memegangi aku dah sepupuku yang ingin lihat laut

Sekarang aku seorang Mahasiswi Teknik, dan masih menjawab cita-citaku sesuai kebutuhan. Mempelajari pengolahan data GPS, kompas digital, dan ingin membuat sebuah kapal. Untuk mencari arah dengan rasi bintang di langit malam di laut.

Comments

  1. hihi keren, itu ceritanya tentang nenek dan kakek heroik ya? tapi saya beneran takjub membacanya dan ingin mendengarkan ceritanya secara langsung :D

    tapi memang di acara yang katanya sakral itu sering terjadi hal-hal yang tidak di inginkan seperti kecelakaan, pengantin ga dateng-dateng, mantan dateng dan lain sebagainya. hal itupun terjadi ketika pernikahan bapak dan mamah saya, dimana ketika keluarga besar bapak saya berbondong bondong ke rumah ibu saya untuk menghadiri acara pernikahan tersebut menggunakan mobil, hal yang tidak di inginkan pun terjadi, mobil tersebut jatuh ke jurang di daerah garut gara-gara supirnya yang terlalu rock & roll ketikta menyertir mobilnya, nah dari situlah nenek saya menggunakan gigi palsu gara-gara giginya pada rontok ketika kecelakaan terjadi haha, tapi alhamdulillah semua anggota keluarga selamat.

    btw, saya suka melihat foto ini
    http://2.bp.blogspot.com/-gu0lMJ7F57c/VI_Z68fvRII/AAAAAAAAB5s/iRiLevzp3Sc/s1600/IMG_0003-3.jpg
    gereget pengen nyuntrungkeun :3

    ReplyDelete

Post a Comment