Musisi Buta Nada


Between Allah and Human
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Gue adalah orang yang ngedengerin musik.
Gue ngga habis pikir sama orang-orang yang Hp-nya ngga diisi musik.
Kok bisa? Hhe
Bagi gue, satu lagu berdurasi 3-4 menit bisa mengubah banyak hal.
Suasana hati, pendapat, keputusan, sampai sekedar dapat inspirasi.
Gue ngga suka lagu-lagu yang liriknya roman picisan sih.
Lagu-lagu yang mendayu-dayu, apalagi kalau liriknya ngga masuk akal.
Misal sekarat karena cinta, ngga bisa hidup tanpa si dia.
Hahaha. You’ve got to kidding me.
Tapi lagu-lagu yang isinya tentang hidup manusia dan segala problem dan perasaan-perasaan mereka, baik yang bisa dideskripsikan maupun yang kadang cuma bisa diisyaratkan, itu selalu punya arti buat gue.
Seolah-olah dengan mendengarkan apa yang mereka bawa lewat lagu mereka, gue bisa ngerti berbagai macam emosi yang belum, atau ngga pernah gue alami seumur hidup gue.
Lagu itu ibarat pesan, pesan manusia kepada dunia… kepada Tuhan mereka.
Gini lho yang saya rasain. Ini lho alasan saya ingin didengar.
Surat… buat Allah.
Tapi jauh sebelum lagu itu diciptakan, atau bahkan pencipta lagu maupun inspirasi untuk bikin lagu itu lahir.
Allah udah punya jawaban untuk setiap surat, setiap lirik, setiap tanya manusia.
Al-Quran.
Jadi setiap lirik, setiap tanya, setiap nada.
Allah punya jawabannya… lama sebelum kita bertanya.
Kita bertanya
Allah menjawab
Begitu terus. Sahut menyahut.
Seperti orang yang saling berkirim surat.
Kalau kita mau mencari… dalam Al-Quran…
Jawaban lirik yang paling metal sampe lirik terdangdut sekalipun.
Allah punya jawabannya. Allah, biarkan kita tahu pendapat-Nya.

Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

My best friend's note – Nearuu (sumber www.facebook.com)

Lagu pertama yang aku ciptakan, eh bukan, lebih tepatnya aku sebagai composer (hahaha!?), judulnya “Lihat, dengar dan rasakan!” , dibuat tahun 2007 oleh Tim Ensemble kelas 9B SMPN 1 Cimahi. Apa judulnya terdengar familiar, yasudah biarkan, kami masih terlalu muda.

 Selembaran yang kami buat agar para siswa menonton kami

Teman sekelasku sejak SD-SMK, Eva, yang mengarang lirik dan nada utamanya, selebihnya kami bersama membuat aransemennya. Awalnya kami ingin lagu yang bikin seru, dangdut mungkin, tapi hasilnya terlalu abal-abal, dan bukannya asik malah layak untuk dihina pendengar. Lalu aku teringat kakak kelasku di tahun sebelumnya bersama Tim Ensemble kelasnya membuat lagu klasik dengan tambahan piano (keyboard) untuk menambah efek klasiknya. Dan itu luar biasa keren untuk diciptakan anak SMP.

Aku mengusulkan lagu klasik juga, tapi mereka bilang, “gak asik, ah!”, ditolak.
Instrument yang biasa digunakan oleh Ensemble meliputi : Recorder (flute, kami biasa menyebutnya seperti itu), gitar, gallon kosong, dan pianika (sejenis piano yang ditiup). Kami harus membawakan 3 lagu, 2 lagu yang disyaratkan (“Mother, how are you today?” dan 1 lagu yang aku lupa) juga 1 lagu karangan sendiri. Kelas 9B dibagi menjadi 2 tim, tim pertama berisi orang-orang yang memang sering bermain musik, banyak yang memiliki band, siswa-siswa populer dan anak-anak seru lainnya. Tim kedua, timku, berisi orang-orang yang terobsesi dengan nilai akademis, peringkat 1-2-3 di kelas, remaja masjid, amatiran musik, anak non populer.

Di tahun itu aku sedang terobsesi dengan kereta api, dan aku sering pergi ke Stasiun Cimahi hanya untuk menikmati suasananya, sendirian. Dan tiba-tiba mengusulkan aransemen lagu Country, disetujui.



Saat pemotretan untuk membuat poster, norak ya. Lokasi di Stasiun Cimahi

Apa hubungan kereta api dan lagu country? Hanya otakku yang paham, it’s easy to imagine but hard to explain, guys!

Mungkin karena kakakku baru saja membeli harmonica, dan aku mengusulkan 2 orang temanku untuk bermain harmonica, tidak disangka ternyata 2 orang cewek tak terduga bisa memainkannya, padahal mereka tampak hanya tertarik pada buku pelajaran, walaupun pemula. 1 cewek menjadi conductor (dirigen, pemimpin lagu maksudnya), pemain gallon kosongnya juga wanita, 1 gitar dimainkan anak lelaki, 1 gitar dimainkan anak perempuan, aku bermain pianika bersama 1 cewek lain. Sisanya memainkan recorder (flute). Tampak seperti susunan yang salah kan! Tapi kami jadi tim terbaik di tahun itu. Dari 5 kelas, berarti ada 10 tim, sampai Ibu Guru Seni Musik terharu (sedikit terdengar suara tersedu) saat mengumumkan bahwa kami tim terbaik dan lagu terbaik. HAHAHA!

Kakakku sedang les gitar saat itu, aku les drum. Dan dari kakakku aku mengetahui teori untuk membuat chord, membuat nada agar enak didengar. Yang aku ingat kuncinya adalah 1-3-5 , urutan diatonic adalah C-D-E-F-G-A-B-C , dengan kenaikkan 1 nada ke nada lainnya adalah 1 – 1 - ½ - 1 – 1 – 1 - ½ . Kakakku bilang bahwa kita bisa membuat kunci gitar lain, tidak harus terpaku pada posisi tangan seperti itu untuk membuat bunyi chord C, karena rumusnya 1 – 3 – 5. Aku belum bisa memainkan gitar waktu itu.

Saat Eva mengarang nada utamanya, temanku yang lain, Happy, menerjemahkan nada yang disenandungkan Eva ke dalam bentuk partitur, Happy memang punya telinga yang peka. Aku membaca partitur itu dan membuat rumus 1 – 3 – 5 itu dari nada-nada tersebut. Awalnya hanya iseng membuktikan teori, tapi ternyata memang masuk irama.

Teman-temanku yang memainkan gitar mencari nada untuk mengiringi lagu itu menggunakan “feel”–nya. Begitu juga yang memukul gallon. Ibu Guru sudah mengajarkan bagaimana membuat suara 1 dan suara 2, makanya pemain recorder dibagi menjadi 3 suara. Tapi aku bingung mencari nada untuk pianika, aku tidak punya “feel”-nya.

Sejujurnya, sampai sekarang aku tidak bisa men-setting senar-senar gitar maupun biola. Aku selalu menggunakan tuner. Telingaku tidak peka, aku tidak bisa membandingkan apakah bunyi senar E pada gitar sudah sama dengan bunyi tuts E pada piano. Bagiku nada-nada itu terdengar sama saja. Ya, itu salah satu kekuranganku.

Orang-orang mengatakan bahwa aku orang yang sangat berotak kanan, hasil tes beberapa kali aku melamar kerja juga menyatakan seperti itu. Guru seni rupaku bilang aku pintar melukis, beliau bahkan meminta lukisan batikku untuk dijadikan contoh untuk tahun-tahun berikutnya. Guru seni musik bilang aku punya kemampuan meng-aransemen lagu. Guru bahasa Indonesiaku memuji karangan dan puisiku. Guru PPL dari UPI menuliskan ucapan terimakasih di buku tulisku karena aku bisa menuliskan hal yang ingin aku lakukan di kelas bahasa dengan sangat rinci dan dapat terdeskripsi secara nyata. Orang tuaku selalu membanding-bandingkan gambar-gambarku dengan gambar kakak dan adikku, mereka bilang milikku lebih baik. Sejak saat itu aku berpikir seperti yang mereka pikirkan, aku sangat berotak kanan.

Everytime I have no one to talk to, I learn how to use my voice for something else, like singing. (My friend's quote)

Musisi satu nada, alias datar dan fals.

Tapi sebenarnya…
Aku bukan melukis, aku hanya mengukur tebal atau tipisnya garis-garis itu, memperhitungkan arah perspektif sudut-sudutnya. Mencari pola pertemuan garis-garis itu untuk membentuk bayangan. Aku bahkan menentukan titik-titik (berdasarkan x dan y) tertentu terlebih dahulu sebelum melukis, seperti membuat grafik kartesian, agar gambar itu tampak baik. Urusan pencampuran warna, aku menghitung persentase perbandingannya.

Aku tidak menciptakan lagu, aku hanya merumuskannya, aku menghitung urutan nada-nada itu agar bertemu di satu titik yang membuatnya enak didengar. Aku terlalu teoritis, aku mengikuti rumus untuk mengaransemen pianonya, bahkan tidak mendengarkannya sama sekali, hanya langsung menuliskan perhitungan deret dan memainkannya. Menurunkan rumus untuk melodi harmonica, mencari pola chord gitar, dan menghitung jumlah ketukan untuk dipukulkan pada gallon. Bahkan akhir-akhir ini aku mengambarkan temponya dengan gelombang pulsa, seperti mengatur PWM. Rumus 1-3-5 itu bermanfaat.

Aku membuat karya tulis dengan memperhitungkan berapa baris dalam 1 paragraf yang akan membuat mereka bosan. Berapa kata yang harus aku ulang agar mereka mengingat maksudnya. Mencari persamaan kalimat dengan maksud yang ingin aku sampaikan. Mengotak-atik kata seperti menurunkan rumus matematis. Kapan deretan kata-kata inti dari tulisanku harus ditulis. Semua diperhitungkan.       

There's nothing right on my left brain.
There's nothing left on my right brain.

Aku tidak tahu mana yang lebih dominan, otak kanan atau otak kiri. Aku bisa dengan seenaknya menilai bahwa temanku dominan otak kanan, yang lain berotak kiri. Tapi aku tidak tahu mengenai aku sendiri.

Aku harus melakukan riset terhadap diriku yang sudah 22 tahun di dunia ini (kalian menyebutnya introspeksi diri, kan!).

Yang aku percaya adalah Allah itu Maha Adil, Ia menetapkan sesuatu tepat pada tempatnya, tepat pada saatnya. Otakku akan bekerja secara adil juga kan. Saat aku di kelas, para ahli bilang bahwa otak kiri bekerja sangat keras, tapi di saat yang tepat juga otak kanan akan mengimbanginya dengan memberi imajinasi-imajinasi hal lain, itu yang aku sebut sebagai bengong atau berkhayal. Saat terlalu banyak yang harus dikerjakan, saat terlalu banyak yang sedang dipikirkan, aku malah memulainya dengan bengong.

Saat otak kiri bekerja terlalu berat, otak kanan akan menyusulnya. That is Anita’s theory, please don’t believe it, sangat menyesatkan.   

Ya, aku terjerumus di dalam rumus.

Sekarang sebagai mahasiswi teknik elektro, aku mempelajari pengolahan sinyal, termasuk sinyal dari nada-nada tersebut. Nada yang dihasilkan dari gelombang sinus dengan frekuensi yang berbeda akan menghasilkan nada yang berbeda. Dan frekuensi adalah 1 per satuan waktu, dan waktu selalu bergerak maju. Menghasilkan nada dari rumus matematis, mengaplikasikannya dalam code-code digital, dan mengagumi keagungan Tuhan dari komponen-komponen elektronik ini.

Coding untuk menghasilkan nada chord E (semoga frekeunsinya tepat) 

Visualisasi nada kord E dalam bentuk sinus

Satu gelombang sinus berjarak 3600. Sama seperti putaran jarum jam, sama seperti putaran roda, sama seperti kompas, sama seperti rotasi bumi, sama seperti gerakan shalat, 3600. Oiya guru mengajiku yang mengajariku shalat, menyuruh agar saat Takbiratul Ihram tegakkan badan setegak 1800, rukuklah semiring 900, dan sujudlah serendah 450 (dilakukan 2x), totalnya 3600. Maaf aku baru paham setelah sekian lama. Karena semua bergerak berdasarkan waktu. Dan seiring waktu juga aku mulai memahami banyak hal.
  
Mungkin ini alasan Tuhan membuatku terjerumus dalam bidang elektro sejak kelas 7 (1 SMP) saat aku berusia 12 tahun, sampai saat ini. Dan selalu dibuat gagal saat mencoba hal yang lain. Aku dibuat masuk ke SMK dengan jurusan Elektro dengan berat hati. 2 tahun gagal seleksi ke perguruan tinggi negeri karena aku tidak berencana melanjutkan bidang ini. Selalu mendapatkan pekerjaan di bidang ini, yang menyebalkan dan menguras otak. Jadi seperti ini rencananya, aku diarahkan untuk mengenal dan mendekati-Nya melalui bidang keilmuan ini. God always knows the answer, so let me know your answer!

Beberapa hari lalu aku mendapatkan penjelasan rinci tentang musik dan matematika, pelajari video ini. 

sumber : ed.ted.com

Sekarang aku bisa menutupi kekuranganku dengan ilmu ini, membuat tuner gitar sendiri dengan rumus matematis yang diajarkan pada dosen (sebenarnya itu salah satu tugas UTS). Terimakasih.



Comments